Antara Aku, Pak As dan Putrinya

Kulihat dari jendela ruang kerjaku, suasana diluar sangat panas..menyengat kulit, kulihat jam menunjukkan pukul 14:18 menit, kuberanjak keluar tuk melepas penatnya pekerjaan yang menumpuk hari ini sekedar merokok…uuff…peluh keluar sesaat setelah itu.

Suasana kampus hari ini sangat rame sekali, bertepatan dengan pengumuman PMDK Prestasi (Jalur program penerimaan mahasiswa baru dengan kategori yang berprestasi/ranking 1 hingga ranking 3 semasa mereka duduk di bangku SLTA), sampai ramenya suasana waktu itu hingga membuat kepalaku serasa penat, ada yang melonjak-lonjak kegirangan, ada pula yang menangis dan yang bermuka sangat sedih, sudah tidak asing lagi bagiku pemandangan seperti ini saat pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi.

Kuhirup dalam-dalam asap rokok dan kunikmati aroma rokok WISMILAK Diplomat wuuuussss….maklum meski aku bukan tergolong diplomat ku hanya bisa merasakan rokok yang beraroma harum dan nikmat. Dari suasana hiruk pikuk itu kulihat seorang bapak yang sangat lusuh duduk di pojok taman depan ruangan kerjaku dengan pandangan kosong. Tak tahu niat dalam hatiku tuk menghampiri beliau, mungkin saja ku bisa berbincang santai dengan beliau tuk melepas penatku.

“Siang pak…” sapaku, beliau tersenyum dan membalas salamku, akhirnya dengan jurus SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) akhirnya kita bisa berkenalan. Pak Asmaji namanya…beliau bekerja menjadi seorang kurir surat menyurat dari instansi ke instani lainya, seorang pekerja yang punya keinginan sangat tinggi tuk anaknya, beliau tak ingin anaknya seperti dirinya yang mempunyai pendidikan rendah dan keahlian yang sangat minim.

Setelah kita dapat berbincang santai akhirnya Pak As (Asmaji) mengajukan pertanyaan pertamanya padaku

Pak As : “Apa kamu bekerja disini nak?”

Aku     : “Iya pak, memangnya kenapa pak”

Pak As : “Ohh…enggak ada apa-apa, cuman apa kamu bisa membantu saya?”

Aku     : “Sekiranya saya bisa membantu permintaan bapak, insyaallah saya bisa bantu…,memangnya ada apa pak?”

Pak As : “Begini…, Aku ini takut pulang…?”

Aku     : “Memangnya kenapa pak…?”  mulanya ingin refresh malah mikir neh kepala

Pak As : Anakku ingin sekali masuk di Universitas ini, di fakultas Kedokteran..tapi kulihat tadi di pengumuman namanya tidak ada dalam daftar penerimaan mahasiswa”

Aku     : “Trus maksud bapak minta pertolongan kepada saya tuh yang bagaimana?” wah… neh kepala tambah bingung lagi dapet pertanyaan seperti ini

Pak As : “Apakah kamu punya kenalan orang dalam yang bisa memasukkan anakku bisa diterima di Fakultas kedokteran ini”

Aku rada kebingungan langsung dapat Point pertanyaan seperti itu…terinspirasi saat kusedot rokok WISMILAK DIPLOMAT akhirnya ku berusaha menjelaskan sedikit tentang hal tersebut, dengan lagak seolah seorang Diplomat yang pandai bicara tentang segala hal.

Aku    : “Begini bapak..,saya banyak rekan di lingkungan kampus ini mulai dari tambal ban, “mak yah” warung kopi karyawan, tukang becak, pegawai, dosen, dokter hingga Profesor, karena saya juga pegawai disini, tapi kalau untuk hal tersebut saya kurang tahu persis pak, karena pekerjaan itu kan sifatnya terselubung….dan kalo terlihat jelas malah pegawai tersebut dipecat dari instansi ini, so saya hanya bisa memberikan pandangan dan itupun kalo bapak bisa terima ulasan saya”

terlihat dengan seriusnya mimik wajah pak As saat itu, seolah benar-benar mendengarkan seorang diplomat ulung berpidato dan mengarahkan pendapatnya agar bisa diterima dalam fikirannya (he..he…he..he.. cuman kalah nasib saja kali ye…).

Aku    : “Bukan saya meremehkan bapak atau apa istilahnya…,tapi bapak mungkin sudah tahu kalo uang pengembangan/gedung fakultas kedokteran dengan jalur PMDK di universitas ini minimal Rp. 150.000.000,– (ufff bisa beli mobil sedan second kesukaanku yang elegen-Honda City) (raut muka pak As langsung pucat pasi), kalo pake jalur belakang mungkin bisa keluarkan dana minimal 350 – 500 jutaan (raut muka pak As tambah pucat dan untuk tidak pingsan). Apa gak eman (sia-sia) pak ? bapak bisa mempertimbangkan untuk mendaftarkan anak bapak di universitas swasta yang mempunyai jurusan kedokteran juga, mungkin biaya terhitung sebesar itu bisa bapak keluarkan tuk pendidikan anak bapak hingga lulus kuliah…, mungkin masih bisa dapet kembalian sedikit?, apa bapak bisa menerima pertimbangan saya?”

Pak As : “Tapi saya masih bingung, karena masih takut menjelaskan hal ini kepada anak perempuanku satu-satunya itu nak…, untuk dana segitu besarnya aku juga tidak punya, kalo saja ku paksa jual sepeda motor dan se-isi prabot rumah tanggaku gak mungkin sampe’ dapetnya 150 jutaan, aku gak tahu kalo ada uang gedung segitu besarnya….,gajiku juga pas-pasan buat makan dan menunjang kehidupan keseharianku, dan karena anakku juga gak pernah cerita tentang hal ini, saat mendaftar jadi mahasiwa saja aku juga gak dikasih tahu, semua dia jalani sendiri dengan niatannya sendiri tuk jadi dokter, hanya saja bapak baru tahu saat bapak di suruh tuk liat hasil ujiannya disini..…dan ini nomor ujiannya?(sambil menunjukkan Nomor Ujian kepadaku).”

Aku    : “Begini saja pak…,bapak pulang saja, sesampai dirumah bapak mamsi (maem siang) kemudian bapak bisa berdo’a kepada Allah SWT tentang hal ini dan pasrahkan saja, karena saya yakin kalo ALLAH SWT tidak akan memberikan beban berat kepada hambanya yang tidak MAMPU menanggung beban BERAT tersebut, setelah itu bapak sampaikan kepada putri bapak tentang semua ini…,dan saya hanya bisa membantu meringankan beban bapak dengan mengarahkan hal tersebut, ringan kok pak kalo minta kepada ALLAH SWT (bukan kaya Diplomat lagi neh tapi pindah profesi sebagai ustad), karena do’a tersebut hanya butuh keyakinan dan tanpa syarat apapun, jangan meminta kepada walikota, gubernur, menteri ataupun presiden…..karena butuh biaya tambahan banyak, persyaratan dan berbagai hal yang harus kita lampaui agar bisa sampai kearah kesana”.

Butuh waktu 5 menitan akhirnya pak AS berpamitan tuk pulang…(dalam hati ketawa, he…he…he…akhirnya pas As kena gendam/hipnotis melalui omongan saya…)

Sekarang ganti aku yang merenung dan menyulut rokok WISMILAK DIPLOMAT kesukaanku sambil berfikir, Begitu mulianya Pak As itu.. dengan memikul beban yang sangat berat karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu tuk menjaga amanah ALLAH SWT yang diberikan kepadanya yakni seorang anak, Pak As tetap bersemangat dalam menjalani kehidupannya yang sederhana serta merawat dan memberikan yang terbaik bagi keluarga dan anaknya, agar dapat menjadi anak dari generasi penerus yang bisa diharapkan bagi dirinya sendiri, keluarga, agama, bangsa dan negaranya meski dengan biaya pendidikan yang sangat mahal dan mustahil bagi seorang pak As untuk dapat mencapainya.

Relitas, untuk memperoleh pendidikan pada saat sekarang ini memang butuh dana yang sangat besar, yang saya takutkan untuk pendidikan di kemudian hari hanya diperuntukan bagi mereka kaum Borjuis saja yang bisa membiayai pendidikan yang sangat mahal, apalagi sekarang jamannya Pendidikan TInggi yang tergolong dalam PT. BHMN (Badan Hak Milik Negara) yang dananya didapatkan dari sebagian besar uang pembangunan program penerimaan mahasiswa baru jalur PMDK (Kalo pengen murah ya ikut program penerimaan mahasiswa baru jalur UMPTN/SPMB saja, dan jangan ikut program penerimaan diluar jalur tersebut…!, pengelakan jawaban dari pernyataan diatas…..he…he…he…he…bukan propaganda lho yah).

Hanya ALLAH SWT yang Maha Pemurah dan MAHA segala-galanya, karena ALLAH tidak pernah memungut biaya kehidupan dan ilmu pengetahuan apapun yang ada dimuka bumi dan di alam semesta ini untuk makhluknya, Subhanallah…

Dan Hidup harus punya keyakinan disamping ketaqwaan kepada ALLAH SWT.

Terima kasih kepada pak As yang membantu mengingatkan ku tentang Hakiki sebagai seorang Ayah, semoga ALLAH SWT memberikan jalan dan keselamatannya.

Coretan ini tidaklah berharga…tapi setidaknya ini semua aku tulis tuk sedikit membantu mengingatkan pada diriku yang terlalu banyak khilafnya.

Salam dan sholawat kutujukan kepada junjunganku Muhammad SAW.

True Story 2008 by: cwtruh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: