Menggugah Komitmen Dosen di PT. BHMN

EFISIENSI dan komitmen adalah dua kata kunci yang harus dilaksanakan oleh semua sivitas akademika PT BHMN. Status pegawai negeri yang melekat pada dosen atau pegawai PT BHMN kemungkinan besar tidak akan mengalami banyak perubahan. Namun, justru yang diharapkan adalah perubahan sikap dan mental mereka sehingga bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan PT BHMN.

Perubahan status empat perguruan tinggi negeri (PTN) IPB, ITB, UGM, dan UI menjadi perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN) akan membawa perubahan besar dalam pengelolaan suatu perguruan tinggi. Di bidang keuangan, PT BHMN dapat menyelenggarakan usaha bisnis dengan aset yang dimilikinya untuk mendukung kegiatan tridharma (pendidikan, penelitian,dan pengabdian pada masyarakat). Aset-aset PT BHMN masih menjadi milik negara, oleh karena itu tidak diperkenankan memperjualbelikan aset tersebut. Yang diperbolehkan adalah mengelola aset dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mendatangkan uang untuk membantu pelaksanaan program PT BHMN.

Secara jujur harus diakui bahwa PTN yang sekarang ber-BHMN belum punya cukup pengalaman untuk berbisnis. Kalau dengan status barunya ini kemudian mereka membabi buta memanfaatkan asetnya untuk kegiatan bisnis, maka bisa-bisa bukan keuntungan yang diperoleh, tetapi justru kerugian.

Untuk memperkuat segi finansial PT BHMN maka cita-cita untuk mewujudkan research university secara bertahap harus dirintis. Kolaborasi riset dengan industri seyogianya menjadi tulang punggung pembiayaan PT BHMN. Ini berarti, kualitas riset harus ditingkatkan dan jumlah mahasiswa pascasarjana yang berorientasi riset juga harus meningkat setiap tahunnya. Sebagai gambaran perbandingan mahasiswa S1 dan S2/S3 di berbagai universitas dapat dilihat pada tabel.

Jadi, tampaknya research university di luar negeri benar-benar didukung oleh sumber daya yang andal untuk melakukan penelitian, yaitu mahasiswa S2/S3. Sementara core bussiness perguruan tinggi di Indonesia masih mengandalkan mahasiswa S1 sebagai tumpuan pembiayaan pendidikan universitas. Jadi, perjalanan menuju research university tampaknya masih cukup panjang. Padahal, kalau research university terwujud di PT BHMN otomatis dosen-dosennya akan lebih berkomitmen untuk melakukan tugas-tugas penelitian di kampus.

ADALAH hal yang wajar bahwa komitmen terhadap institusi akan meningkat manakala para dosen dan pegawai PT BHMN sudah tercukupi kesejahteraannya. Apabila belum, mereka akan mencari tambahan di luar. Istilah dosen asongan, dosen luar biasa (baca: biasa di luar), dan dosen terbang adalah sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka sulit terikat pada institusinya karena masih harus mencari tambahan penghasilan di luar kantor. Ada dosen yang getol mengajar ke sana kemari, ada yang senangnya berseminar, ada yang menjadi konsultan, dan ada pula yang merangkap menjadi birokrat. Motivasi mereka salah satunya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Status BHMN konon merupakan sesuatu yang memang harus diraih oleh PTN. Hak-hak perguruan tinggi seolah dikembalikan sepenuhnya apabila sudah ber-BHMN. Yang perlu diingat adalah bahwa BHMN tidak berarti perguruan tinggi lepas kendali. PT BHMN tetap tidak bisa berpraktik seperti PTS. Sebagian besar aset PT BHMN adalah milik pemerintah, dosen, dan pegawainya masih termasuk pegawai negeri yang digaji oleh pemerintah. Oleh sebab itu, PT BHMN masih tetap mempunyai hubungan erat dengan pemerintah.

Dalam masa transisi menuju status BHMN sampai dengan tahun 2010 nanti diperlukan tatanan-tatanan baru untuk mengubah sistem penyelenggaraan universitas. Pernah tersiar bahwa pemerintah masih akan membantu PT BHMN dengan block grants yang diperoleh dari dana pinjaman luar negeri. Namun, utang pemerintah yang semakin banyak mungkin menjadi pertimbangan Depdiknas untuk menunda atau membatalkan rencana pemberian block grants ini.

Jelas kiranya bahwa status BHMN bukan berarti kita meraih kemerdekaan dan langsung bisa mengisap madu manis seperti dalam impian. Pimpinan PT BHMN harus banyak belajar dari PTS ternama yang selama ini telah terbukti bisa survive. Strategi yang membedakan PT BHMN dengan PTS dalam mencari dana adalah bahwa PT BHMN tidak bisa sewenang-wenang menaikkan biaya SPP mahasiswa. Rektor PT-BHMN harus lebih kreatif menggali dana-dana non-SPP untuk menjalankan institusinya.

Salah satu syarat menjadi rektor PT BHMN adalah mempunyai jiwa wiraswasta. Ini berarti rektor harus pandai mencari uang. Sebenarnya, kalau mau serius mengurus PT BHMN sebaiknya rektor benar-benar bekerja penuh mengelola perguruan tingginya. Untuk sementara rektor bisa cuti dari tugas-tugas akademik seperti mengajar atau meneliti. Dengan demikian rektor menjadi manajer universitas yang sesungguhnya.

Rektor PT BHMN harus mendapatkan gaji lebih tinggi daripada rektor PTN. Selama ini rektor PTN menerima gaji sebagai dosen dan pejabat eselon I. Gaji rektor PT BHMN mungkin harus setara dengan rektor PTS ternama di Tanah Air. Ini berarti kita bicara tentang angka Rp 30 juta-Rp 50 juta sebulan. Apabila rektor yang sudah bergaji besar ini ternyata tidak bisa mendatangkan uang untuk perguruan tingginya, dapat dikatakan dia gagal sebagai rektor PT BHMN.

Status BHMN tentu bukan sekadar untuk menyejahterakan rektornya, tetapi juga perbaikan kesejahteraan untuk seluruh dosen dan pegawainya. Baru ketika kesejahteraan semakin membaik kita bisa menggugah etos kerja, disiplin, komitmen, dan efisiensi.

Dosen adalah pegawai yang waktu kerjanya tidak bisa dibatasi dengan check clock. Kita bisa menertibkan pegawai administrasi untuk selalu datang pukul 08.00 dan pulang pukul 16.00. Namun peraturan ini seringkali tidak berlaku untuk dosen. Seorang dosen bisa datang dan pulang kapan saja, asalkan tidak mengabaikan tugasnya dalam mengajar atau membimbing mahasiswa. Mitos semacam ini harus dibenahi kalau kita mau ber-BHMN. Harus ada jumlah minimum hari yang harus dipenuhi dosen untuk berada di kampus. Dia sudah memperoleh kesejahteraan yang baik (kalau gajinya jadi naik setelah ber-BHMN), oleh sebab itu dosen harus mempunyai komitmen lebih tinggi untuk berada di kampus.

Honor membimbing dan mengajar mahasiswa harus ditingkatkan sehingga seorang dosen tidak perlu ke sana kemari mengajar di berbagai universitas hanya sekadar untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Dosen yang tercukupi gajinya akan bisa lebih berkonsentrasi menyiapkan materi kuliahnya. Dia juga bisa berperan lebih intensif dalam membimbing mahasiswanya. Hal ini akan menjadi faktor penentu agar mahasiswa lulus tepat waktu sehingga tidak memboroskan sumber dana dan sumber daya selama studi di universitas.

Sumber : Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: