Coretan Pinggir Kota

Pemulung, Pegawai dan Orang kaya

Didalam sebuah gubuk reyot dalam kompleks perumahan kumuh jauh di pinggiran kota, seorang pemulung tua sedang merintih kesakitan memegangi pipinya. Giginya yang memang tidak terawat dan berlubang dimana-mana itu tampaknya sedang melakukan protes. Berdemo menuntut, karena selama ini hanya
dipekerjakan saja tanpa pernah dirawat, sikat
gigipun tidak, hanya berkumur air, itupun kalau ingat. Maklum saja, dengan kondisi minus seperti itu mana mungkin pemulung tua itu bisa memberikan perawatan terbaik untuk gigi-giginya. Makan sekali sehari saja sudah untung, jangankan untuk pergi kedokter gigi, membeli pasta gigi dan sikatnya saja dia tidak mampu. Menjadi pemulung memang bukan pilihan hidupnya, tetapi nasib membuatnya mau tidak mau memilih profesi itu. Dengan menahan sakitnya, pemulung itu mulai berdoa, matanya terpejam, ” Ya Tuhan, hamba-Mu ini harus bekerja untuk menyambung hidupnya, jikalau boleh ya Tuhan, ringankanlah sakit hamba ini, hamba bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup satu hari lagi dan sakit hamba hanya sakit gigi, bukan penyakit yang mematikan yang membuat hamba tidak bisa menghidupi keluarga hamba lagi.” Dalam deritanya pengemis tua itu masih bisa bersyukur. Dia bersiap-siap berangkat memulung seperti hari-hari biasanya. Ada istri dan seorang anak yang harus dinafkahinya. Anaknya memang sudah dewasa, sayangnya dia terlahir cacat mental sehingga tidak bisa membantu bapaknya bekerja, sedangkan istrinya buta, jadilah tanggung jawab keluarga penuh jatuh ditangannya. Sampai usia serenta itu dia tetap menjadi pemulung untk keluarganya. Pemulung tua itu singgah disebuah kios di ujung jalan, mengeluarkan selembar uang lima ratus rupiah kusam, “Bu, salonpas satu ya.” Salonpas itu dia tempelkan dipipinya tepat ditempat gigi yang sakit tadi. Dia meneruskan langkahnya untuk menyambung hidupnya, kini wajahnya telah ceria lagi, seperti orang sehat pada umunya tidak tampak dia sedang menahan sakit.

Disebuah perumahan sederhana, dipinggiran kota, seorang bapak setengah baya memegangi kepalanya, wajahnya tampak pucat, dia tidak beranjak dari tempat tidurnya. Istrinya lalu lalang membawakan teh hangat, memijat-mijat kepala suaminya lalu pindah ke kakinya, tentu saja kaki suaminya tidak sakit tapi entah kenapa istrinya malah memijat kaki suaminya. Bapak setengah baya itu hanyalah pegawai rendahan pada instansi pemerintah. Bapak setengah baya itupun berucap,” Ya ampun, hidup sudah susah begini, kok ya malah sakit, berobatkan perlu biaya tidak sedikit, gajipun belum turun, Tuhan kenapa Kau berikan sakit ini, hamba orang susah.” Hidup bapak setengah baya itu memang pas-pasan, sebagai pegawai rendahan gajinya benar-benar pas untuk hidup satu bulan, ditambah membiayai dua orang anaknya yang baru duduk di sekolah menengah atas dan sekolah dasar, istrinya hanya seorang buruh jahit, dan tidak setiap hari mendapat jatah jahitan. Saat hari menjelang siang, dengan uang terbatas yang semestinya akan dipakai untuk membayar uang sekolah anak pertamanya, bapak setengah baya dan istrinya berangkat ke puskesmas. Dokter di puskesmas mendiagnosa bapak setengah baya itu terkena demam biasa, satu sampai dua hari lagi juga pasti sembuh. Istri bapak itu menebus resep obat yang di tulis dokter tadi. Sesampainya dirumah, bapak setengah baya itu langsung meminum obat sesuai anjuran dokter tadi.
Seminggu sudah bapak setengah baya itu sakit. Belum ada tanda-tanda bapak itu akan sembuh. Bapak itu kembali mengaduh,” Ya Tuhan, kenapa sakit ini tidak sembuh juga, uang sudah banyak yang terpakai untuk biaya berobat.” Rupanya selama ini bapak setengah baya itu selalu saja memikirkan sakitnya dan selalu mengeluh. Mukanya semakin pucat dan terlihat lebih tua dari umurnya.

Perumahan mewah dipinggir kota yang strategis, didalam salah rumah yang bergaya Eropa itu muncul kegaduhan kecil. Rupanya tuan rumah yang kaya raya itu tiba-tiba saja tidak bisa bangun dari tempat tidur. Seluruh sendi-sendinya tidak bisa digerakan, hanya bicara masih lancar. Tidak berselang lama, ambulance dari salah satu rumah sakit ternama datang. Tuan rumah yang kaya raya itu langsung diboyong ke rumah sakit ternama itu. Disana tampaknya dokter spesialis telah menunggu tuan rumah yang kaya raya itu untuk memberikan penanganan kelas satu. Tuan rumah yang kaya raya itu difonis menderita stroke. Mendengar hal itu, tuan rumah yang kaya raya itu sangat kaget dan naik darah, ” Hah, mana mungkin aku sakit stroke, apa kerjanya dokter disini, cepat sembuhkan aku, aku tidak mau sakit lama-lama, apa mereka tidak tau kalau perusahaanku banyak dan kalau aku lama-lama disini bisa bangkrut aku.” Lalu tuan rumah yang kaya raya itupun jatuh pingsan, tekanan darahnya naik, dan segera dilarikan ke ruang ICU. Meskipun tuan rumah yang kaya raya itu tidak menyebut nama Tuhan, tetapi apa yang keluar dari hatinya adalah doa. Kerana dia telah berkata tidak mau sakit lama-lama, maka Tuhan mengabulkannya, hanya selang satu hari tuan rumah yang kaya raya itu dirawat dirumah sakit yang ternama itu, akhirnya dia benar-benar sembuh selama-lamanya, Tuhan telah memanggilnya kembali. Tuan rumah yang kaya raya itu tidak terima kalau dia terkena stroke. Padahal sejak dulu gaya hidupnya tidak pernah sehat, yang dia lakukan dan yang dia makan selama bertahun-tahun adalah investasi penyakit yang saat ini bisa dia rasakan manfaatnya. Lebih dari lima perusahaannya saat ini tidak bertuan, istri dan tiga orang anaknya pastilah tidak tau cara melanjutkan perusahaan itu, karena selama ini yang mereka tau adalah bagaimana caranya menghabisakan uang untuk bersenang-senang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: